Guru adalah sahabat, guru adalah teman.
Penulis : Admin      Kategori : Kegiatan Sekolah      Post : 29 Sep 2018          

Guru yang dicintai oleh anak didiknya adalah yang bisa menjadi sahabat dalam belajar. Guru yang menjadi sahabat ini adalah hal baru dan penting untuk diperhatikan. Berbeda dengan zaman dahulu yang beragam informasi tidak mudah diakses dengan kecanggihan teknologi sebagaimana saat ini. Saat itu, guru sekan menjadi satu-satunya sumber ilmu. Peran seorang guru adalah memberikan ilmu kepada anak didiknya. Oleh karena itu, seorang guru akhirnya juga bisa menjadi penguasa tunggal di dalam kelas.

Seorang guru yang tampil penuh persahabatan dengan anak didiknya tentu bukanlah guru yang begitu mudah menjatuhkan hukuman bagi anak didik yang melanggar. Apalagi tanpa bertanya sebelumnya kepada anak didiknya mengapa melakukan perbuatan yang tidak baik atau melanggar aturan sekolah, tapi langsung saja melemparkan penghapus, mencubit, menjewer, atau bahkan memukul dengan penggaris kayu.

Seorang guru yang menjadikan dirinya sahabat bagi anak didiknya dalam belajar bukan berarti tidak mengenal hukuman. Jika ada di antara anak didiknya melakukan pelanggaran, tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Pada suatu hari, penulis berkesempatan berkunjung ke sebuah sekolah. Pada saat melihat proses belajar mengajar, ada beberapa siswa yang duduk di jendela. Bahkan, ada dua anak didik yang naik mimbar yang berada dalam ruang belajar tersebut; tidak hanya naik, tapi duduk di atas mimbar. Penulis prihatin ketika dalam ruang belajar tersebut ada seorang guru yang sedang membimbing mereka dan tidak menegur sama sekali beberapa anak didiknya yang naik jendela dan duduk di atas mimbar. Menurut penulis, bagaimanapun juga seorang guru perlu mempunyai perhatian apabila ada di antara didiknya yang tidak fokus terhadap kegiatan belajar, apalagi sampai melakukan hal yang tidak sepatutnya dalam proses belajar mengajar.

Hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru apabila anak didiknya melakukan pelanggaran semestinya tidak langsung memberikan hukuman. Atau, jika bisa, tidak perlu memberikan hukuman. Namun, mengajak bicara secara baik-baik anak tersebut dalam rangka untuk menanyai alasannya atau mengapa ia melakukan perbuatan tersebut. Lebih baik lagi, jika pembicaraan dengan anak didik tersebut dilakukan dengan empat mata atau berdua saja dengan sang anak didik. Sebab, bagaimanapun juga, meski masih anak-anak, ia tidak ingin dipermalukan dengan dihukum di hadapan teman-temannya.

 Kategori Artikel